SAMPAH....mendengarnya saja kadang kita sudah merasa jijik...apa lagi mengolahnya...hiiiii....Namun itulah kenyataannya, setiap hari sampah dihasilkan. Saya coba ambil contoh data Siswa SMP.N.1.Cisalak pada tahun 2009, menurut data Sekolah, 1.320 Siswa,jika 1 siswa sehari membuang 2 bungkus kemasan plastic/kertas/daun,maka sehari 2.640 buah kemasan yang jadi sampah,anda tinggal menghitung kalau dikali 1 minggu dan dikali 1 bulan atau 1 tahun,berapa banyak sampah yg dikumpulkan. Memang ini hanya perhitungan secara kasar saja, namun paling tidak dapat memberikan gambaran secara nyata masalah lingkungan yang sedang kita hadapi. Dan kalau kita mulai dari lingkungan keluarga/rumah tangga, niscaya akan terbentuk individu-individu yang peduli terhadap lingkungan.
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
Adapun pengelompokan sampah dapat dilihat di bawah ini: Berdasarkan Jenisnya dikelompokan :
1. Sampah organik
adalah sampah yang dapat hancur secara alamiah baik oleh air hujan, panas matahari, terserap tanah.Cirinya:Basah dan bersal dari bahan Biotik
Sampah kebun seperti daun, rumput, bunga layu, potongan ranting.
Sampah dapur seperti potongan sayuran, kulit buah dan buah, ampas jus atau ampas sayuran, ampas teh, ampas kopi.
Sampah kertas, potongan kertas dalam jumlah kecil.
Sampah kain bekas dari bahan katun
Sampah kotoran hewan herbivora (pemakan tumbuhan) seperti kotoran burung, kelinci, kuda , kambing dan bebek
2. Sampah anorganik
adalah sampah yang sulit atau tidak dapat hancur melalui proses alamiah. Sampah yang dapat didaur ulang sekitar 14 persen dari total sampah.Cirinya: Kering an berasal dari bahan Abiotik
Kaca, gelas atau botol. Kaleng,Besi dan alumunium Botol dan gelas plastik, kantong plastik kresek. Berdasarkan Sifatnya dikelompokan :
1.Sampah Degredable (Dapat membusuk)
Sampah yang tergolong dalam kelompok ini biasanya berasal dari jenis Sampah Organik.
2.Sampah NonDegredable (Tidak dapat membusuk)
Sampah yang tergolong dalam kelompok ini biasanya berasal dari jenis Sampah An-Organik.
Berdasarkan Bentuknya Sampah Dikelompokan :
1.Sampah Padat
2.Sampah Cair
3.Sampah Gas
Sampah Padat VS Sampah Cair
Membersihkan kompor setelah masak: pilih pakai tisu dapur atau lap kain. Tisu dapur seperti keluaran Magiclean setelah dipakai langsung dibuang. Artinya, jadi sampah padat. Pakai lap kain atau gombal mukio bobrok kaos bekas yang sudah jelek, harus dicuci pakai banyak sabun setelah ketempelan berbagai kotoran berminyak. Sabun melepas minyak dan segala kotoran dari lap yang sudah dibasahi air. Lalu lap dibilas, dengan air lagi. Air yang tadinya bersih jadi kotor. Artinya: sampah cair. Walaupun sebetulnya partikel yang terbawa di air adalah padat juga.
Popok bayi: pilih pakai popok tisu atau popok kain. Popok tisu setelah dipipisi langsung dibuang jadi sampah padat. Popok kain, setelah kotor terus dicuci pakai sabun. Kotorannya terlarut di air jadi sampah cair.
Makan sehari-hari: masak sendiri atau beli. Masak sendiri sama dengan pakai alat makan piring sendok garpu yang sudah ada. Biasanya habis makan terus dicuci dengan sabun, menghasilkan sampah cair. Beli makan di luar rumah, tentu dibungkus kalau tidak mau dimakan di warungnya langsung. Maka dihasilkanlah sampah padat pembungkus makanan serta kantong plastik pembawa makanan dari warung. Segi baiknya adalah pembeli tidak harus cuci piring.
Kumpul-kumpul makan-makan: pakai alat makan plastik/kertas atau alat makan beling/keramik/plastik tahan lama. Kebanyakan akan memilih alat makan sekali pakai langsung buang. Bayangkan bila undangan ada 100 orang. Bagaimana bisa bertahan kalau harus beli dulu segala perkakas makan betulan terbuat dari keramik atau melamin atau beling. Belum lagi setelah acara harus banting tulang cuci semuanya. Lalu ada lagi masalah penyimpanan. Pokoknya pasti jatuh jauh lebih murah memakai perkakas makan sekali pakai langsung buang. Walau artinya sampah padat yang tercipta jadi jauh lebih banyak.
Lalu mending mana, menimbun sampat padat atau menggenang sampah cair? Yah, semua sama buruknya. Sampah cair penanganannya bukan semudah menggelontorkannya ke laut. Partikel padat terlarut di air disaring, diendapkan, dikeringkan, dipisahkan dari air yang membawanya. Baru air yang sudah ‘bersih’ kembali bisa dipersilahkan melaut. Sampah padat, harus dibawa dengan truk ke tempat pengolahan. Lalu dipisahkan dari bahan-bahan yang masih berharga seperti terutama logam, lalu dibakar, lalu ditimbun di penimbunan akhir.
Semuanya beresiko tinggi. Tidak ada hidup mudah dengan resiko gampang. Sampah padat atau sampah cair, pilihan terserah pelaku. Yang jelas menderita langsung adalah bumi.
Sampah Gas Landfill Gas (LFG) adalah produk sampingan dari proses dekomposisi dari timbunan sampah yang terdiri dari unsur ~50% metan (CH4), ~50% karbon dioksida (CO2) dan <1% non-methane organic compound (NMOCs),
3. Sampah berbahaya yang tidak boleh dibuang sembarangan.
Sampah ini tidak dapat didaur ulang arau digunakan kembali. Teknologi untuk memusnahkannya adalah dengan pembakaran. Kertas pembungkus berlapis plastik, kantong plastik, pipa plastik PVC, papan sirkuit elekronik (PCB). Baterai. Kapsul dan pil sisa obat Gabus styrofoam Sampah rumah sakit, popok bayi sekali pakai, tekstil sintetis
Beberapa hal yang telah saya coba lakukan bersama keluarga terhadap sampah adalah:
- Memilah sampah organik baik basah maupun kering kedalam satu wadah yang kemudian saya masukkan kedalam lubang tanah yang telah disiapkan, dan setiap 2 minggu sekali saya tutup kembali menggunakan galian tanah yang baru, sehingga dapat membentuk kompos dan membuat tanah menjadi lebih subur.

Sampah daun, bekas makanan, sayuran organik dimasukan kedalam lubang, kalau sudah penuh/padat saya tutup dengan tanah.
- Sampah anorganik kami kelompokan untuk kemudian saya jual/berikan ke pemulung (lumayan bisa buat beli koran lagi hi...hi....)
- Sampah yang tidak dapat diolah saya bakar (sekitar 20% dari total sampah), sampah ini kadang tidak dihasilkan, jadi kami jarang sekali membakar sampah jenis ini.
Memang cara ini belum efektif dan belum ideal untuk mengejar zero waste, serta memerlukan sedikit lahan untuk menimbun, untuk anda yang tidak mempunyai lahan dapat mempelajari pembuatan kompos dengan kaleng bekas, mudah2xan saya bisa membahasnya di artkel lain.
Besar harapan saya bahwa tulisan ini dapat memberikan sedikit ketukan hati pembaca sekalian untuk melakukannya, setidaknya mulai dari keluarga kita tercinta.....
MARILAH......KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI YANG PEDULI MASA DEPAN ANAK CUCU KITA
KALAU BUKAN DARI SEKARANG KAPAN LAGI KITA MEMULAI
PEDULILAH TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR KITA
Written by : A'gus Ismaiel, S.P.(Zyrex Spansax) Environment Education SMP.N.1.Cisalak
.jpg)